Sabtu, 28 Februari 2015

MAKNA DAN POSISI SERTA URGENSI BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN (RESUME KELOMPOK 1)

MAKNA DAN POSISI SERTA URGENSI BIMBINGAN DAN KONSELING
DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN

Pendidikan untuk setiap individu dapat diperoleh melalui jalur formal, informal maupun non formal. Dimulai dari keluarga dan lingkungannya yaitu sebagai pendidikan di jalur non formal kemudian di tempat bimbingan belajar ataupun tempat les lainnya sebagai jalur informal dan di sekolah sebagai jalur formal. Kegiatan di sekolah tidak hanya tentang belajar di ruangan kelas tetapi juga interaksi sosial yang terjadi. Oleh karena itu, bagaimanakah makna dan posisi serta urgensi bimbingan dan konseling dalam praktek pendidikan?. Maka akan dibahas hal-hal yang berkaitan dengan makna, posisi dan urgensi bimbingan konseling.

A.      Pengertian Bimbingan dan Konseling
Berikut ini pengertian bimbingan menurut beberapa ahli :
1.      Arthur J. Jones yang dikutip DR. Tohari Musnamar (1985: 4) menyatakan bimbingan sebagai pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam hal membuat pilihan-pilihan, penyesuaian diri dan pemecahan problem-problem yang bertujuan membantu orang tersebut untuk tumbuh dalam hal kemandirian dan kemampuan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri.
2.      Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”.
Berikut ini pengertian konseling menurut beberapa ahli :
1.      Prayitno dan Erman Amti (2004: 105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
2.      Winkel (2005:34) mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.

Berdasarkan pengertian bimbingan dan konseling menurut para ahli di atas, bimbingan dan konseling merupakan dua hal yang berbeda akan tetapi keduanya memiliki keterkaitan yang saling mempengaruhi. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan seseorang terhadap orang lain untuk tercapainya kemampuan-kemampuan diri agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sementara itu, konseling adalah bimbingan antara konselor dengan klien melalui serangkaian wawancara dengan tujuan klien dapat mengatasi masalah yang dihadapainya. Kemudian apakah perbedaan antara guru BK dengan konselor?. Perbedaannya terletak di pendidikan yang harus diambil oleh guru BK dan konselor.   

B.      Kondisi Bimbingan dan Konseling (BK) di Sekolah
Kemampuan kognitif seseorang masih menjadi pokok obrolan dunia pendidikan di Indonesia. Hal tersebut menjadikan kurangnya perhatian terhadap aspek psikologis peserta didik sendiri yang mengakibatkan bebrapa paradigma mengenai BK di sekolah yaitu sekolah yang sadar betul pentingnya BK untuk membangun karakter peserta didik, sekolah yang sadar akan kedudukan BK dalam pembentukan pribadi siswa tetapi tidak didukung oleh materi, tenaga dan yayasan atau pemerintah, sekolah yang masih menerapkan manajemen BKjadul dan sekolah yang belum memiliki manajemen BK.

C.      Landasan Psikologis Bimbingan dan Konseling
Beberapa kajian psikologis yang menjadi landasan untuk memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku seseorang, yaitu (1) motif dan motivasi, terdapat dua jenis motif yaitu motif primer dan motif sekunder. motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik); (2) konflik dan frustasi; (3) sikap, pembawaan dan lingkungan,  perkembangan individu; (4) belajar; (5) kepribadian.

D.     Landasan Sosiologis (Sosial-Budaya) Bimbingan dan Konseling
Perkembangan sosial dan budaya  yang terjadi di masyarakat menimbulkan kebutuhan akan bimbingan menurut John J. Pietrofesa dkk.,(1980); M. Surya & Rochman N.,(1986); dan Rochman N., (1987) terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu perubahan konstelasi keluarga, perkembangan pendidikan, dunia kerja, perkembangan kota metropolitan, perkembangan komunikasi, seksisme dan rasisme, kesehatan mental, perkembangan teknologi, kondisi moral dan keagamaan, serta kondisi sosial ekonomi.

E.      Landasan Pedagogis Bimbingan dan Konseling
Tohirin (2007: 103) mengatakan bahwa landasan bimbingan dan konseling setidaknya berkaitan dengan pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan, pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling, dan pendidikan sebagai inti tujuan bimbingan dan konseling.

F.      Landasan Agama Bimbingan dan Konseling
Pembahasan landasan religius ini pada dasarnya ingin menetapkan klien sebagai makhluk Tuhan, berupaya mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam proses bimbingan dan konseling dan pentingnya pemahaman konselor tentang hakikat manusia menurut agama dan peran agama dalam kehidupan umat manusia. Prayitno dan Erman Amti mengemukakan persyaratan bagi konselor,  yaitu orang yang beragama dan mengamalkan dengan baik keimanan dan ketaqwaannya sesuai dengan agama yang dianutnya, konselor sedapat-dapatnya mampu mentransfer kaidah-kaidah agama secara garis besar yang relevan dengan masalah klien dan konselor harus benar-benar memperhatikan dan  menghormati agama klien.

G.      Landasan Perkembangan IPTEK Bimbingan dan Konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan di lapangan tidak hanya berdasarkan pengalaman yang telah dialami oleh konselor akan tetapi dilaksanakan atas dasar keilmuan. Berdasarakan hal tersebut ilmu bimbingan dan konseling merujuk kepada disiplin ilmu-ilmu sosial lainnya antara lain psikologi, ilmu pendidikan, ilmu sosiologi, antropologi, ekonomi, ilmu agama, ilmu hukum, filsafat, dan lain-lain.

H.     Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling
            Gerakan bimbingan lahir pada tanggal 13 Januari 1908 di Amerika, dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal sebagai“Father of The Guedance Movement in American Education”. Pada tahun 1920-an, para konselor sekolah di Boston dan New York diharapkan dapat membantu para siswa dalam memilih sekolah dan pekerjaan. Selama tahun 1920-an itu pula, sertifikasi konselor sekolah mulai diterapkan pada kedua kota tersebut (Bimo Walgito, 2010:15)

I.        Perkembangan Bimbingan dan Konseling Di Indonesia
Pelayanan Konseling dalam system pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama. Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan sekarang. Layanan BK sudah mulai dibicarakan di Indonesia sejak tahun 1962. Namun BK baru diresmikan di sekolah di Indonesia sejak diberlakukan kurikulum 1975. Kemudian disempurnakan ke dalam kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir di dalamnya. Perkembangan BK semakin mantap pada tahun 2001.


REFERENSI :
Kelompok 1. (2015). MAKNA DAN POSISI SERTA URGENSI BIMBINGAN DAN KONSELING. Bandung: -.

Kartadinata, Sunaryo. (2011). Menguak Tabir Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya Pedagogis. Bandung: UPI Press

Sukardi, Dewa Ketut Drs. MBA. MM. dan Desak P.E. Nila Kusmwati, S.Si, M.Si. (2008). Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

Syamsu, Yusuf Dr., L.N. dan Dr. A. Juntika Nurihsan. (2009). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosda

Tohirin, Drs. M. Pd. (2007). Bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada



Tidak ada komentar:

Posting Komentar