Minggu, 03 Mei 2015

KONSEP DASAR DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR DAN PENGAJARAN REMEDIAL (Resume Kelompok 8)

KONSEP DASAR DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR
DAN PENGAJARAN REMEDIAL

A.    Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar
1.      Definisi Diagnostik Kesulitan Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diagnosis /di·ag·no·sis/  adalah penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya. Secara harfiah, kesulitan belajar didefinisikan sebagai rendahnya kepandaian yang dimiliki seseorang dibandingkan dengan kemampuan yang seharusnya dicapai orang itu pada umur tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa diagnostik kesulitan belajar merupakan proses menentukan masalah atas ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang penyebabnya dan atau dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.

2.      Jenis-Jenis Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar dibagi menjadi tiga kategori besar, yaitu :
a.         Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa
Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa sering menjadi indikasi awal bagi kesulitan belajar yang dialami seorang anak.
b.        Permasalahan dalam hal kemampuan akademik
c.         Kesulitan lainnya, yang mencakup kesulitan dalam mengoordinasi gerakan anggota tubuh serta permasalahan belajar yang belum dicakup oleh kedua kategori di atas.

3.      Faktor Penyebab Munculnya Kesulitan Belajar
Beberapa faktor penyebab munculnya kesulitan belajar menurut Sukardi dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.       Faktor internal yang meliputi:
1)      Kesehatan
2)      Problem Menyesuaikan Diri
b.      Faktor eksternal yang meliputi:
1)      Lingkungan
2)      Cara Guru Mengajar yang Tidak Baik
3)      Orang Tua Siswa
4)      Masyarakat Sekitar

4.      Ciri-Ciri Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Menurut Cece Wijaya (2010),  kerusakan-kerusakan itu dikategorikan dalam empat hal, yaitu :
a.       Dyslexia, adalah kelemahan-kelemahan belajar di bidang menulis dan berbicara. Ciri-cirinya adalah sulit mengingat huruf, kata, tulisan, dan suara.
b.      Dyscalculia, adalah kesulitan mengenal angka dan pemahaman terhadap konsep dasar matematika.
c.       Attention Defisit Hyperactive Disorder (ADHD), adalah pemusatan perhatian terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapinya.
d.      Spatial, motor, ad perceptual defisits, adalah kondisi lemah dalam menilai dirinya menurutukuran ruang dan waktu.
Kerusakan lainnya yang membuat siswa lamban belajar adalah Social defisits, yaitu kesulitan mengembangkan keterampilan sosial.

5.      Prosedur Diagnostik Kesulitan Belajar
Ada tiga langkah umum yamg harus ditempuh oleh seorang guru, yaitu :
a.    Mendiagnostik kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.
b.    Mengadakan estimasi (prognosis) tentang faktor-faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa.
c.    Mengadakan terapi

6.      Mendiagnostik Kesulitan Belajar secara Formal
Diagnostik kesulitan belajar dilakukan dengan metode uji standar dengan cara membandingkan tingkatan kemampuan seorang anak dengan anak lainnya yang dianggap normal. Hasil uji tidak hanya tergantung pada kemampuan aktual anak, tetapi juga reliabilitas pengujian itu serta kemampuan sang anak untuk memerhatikan dan memahami pertanyaannya. Masing-masing tipe gangguan belajar didiagnostik dengan cara yang berbeda.

7.      Evaluasi Diagnostik Kesulitan Belajar 
Evaluasi diagnostik kesulitan belajar pada umumnya dilakukan pada awal pengajaran, awal tahun ajaran atau semester. Tujuan evaluasi ini salah satunya adalah untuk menentukan tingkat pengetahuan awal siswa.

B.     Konsep Dasar Pengajaran Remedial
1.      Definisi Pengajaran Remedial
Menurut Sukardi, “Remedial tidak lain adalah termasuk kegiatan pengajaran yang tepat diterapkan, hanya ketika kesulitan dasar para siswa telah diketahui. Kegiatan remedial merupakan tindakan korektif yang diberikan kepada siswa setelah evaluasi diagnostik dilakukan.

2.      Tujuan dan Fungsi Pengajaran Remedial
a.     Tujuan Pengajaran Remedial yaitu :
1)      Supaya siswa dapat memahami dirinya.
2)      Supaya siswa dapat memperbaiki atau mengubah cara belajarnya ke arah yang lebih baik.
3)      Supaya siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.
4)      Supaya siswa dapat mengembangkan sifat dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik
5)      Supaya siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya
b.    Fungsi Pengajaran Remedial
1)      Fungsi Korektif
Melalui pengajaran remedial dapat dilakukan  perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran
2)      Fungsi Pemahaman
Melalui remedial memungkinkan guru, siswa atau pihak-pihak lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan komprehesif mengenai pribadi siswa.
3)      Fungsi Penyesuaian
Melalui pengajaran ramedial dapat membentuk siswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan proses belajarnya.
4)      Fungsi Pengayaan
Melalui pengajaran remedial, siswa akan dapat memperkaya proses pembelajaran
5)      Fungsi Akselerasi
Melalui pengajaran remedial akan dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efesien.
6)      Fungsi Terapeutik
Melalui pengajaran remedial secara langsung atau tidak akan dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukan adanya penyimpangan.
3.      Metode dalam Pengajaran Remedial
a.       Tanya Jawab
b.      Diskusi
c.       Tugas
d.      Kerja Kelompok
e.       Tutor
f.       Pengajaran Individual

4.      Strategi dan Teknik dalam Pendekatan Pengajaran Remedial
Izhar Hasis  yang disimpulkan dari  Ross and  Stanley dan dari  Dinkmeyer and Caldweel dalam bukunya Developmental Counseling, adalah sebagai berikut :
a.     Strategi dan Teknik Pendekatan Remedial Teaching yang Bersifat Kuratif
Teknik pendekatan yang dipakai dalam hal  ini  adalah sebagai berikut :
1)              Pengulangan (repetation)
2)              Pengayaan (enrichment) dan Pengukuhan (reinforcement)
3)              Percepatan (acceleration)
b.      Strategi dan Teknik pendekatan Remedial Teaching yang Bersifat Preventif
Teknik pendekatan yang dipakai adalah layanan pengajaran  kelompok yang Diorganisasikan secara homogen (homogenius  grouping), layanan pengajaran secara individual dan layanan pengajaran kelompok dengan dilengkapi kelas khusus remedial dan pengayaan.
c.    Strategi dan Teknik Pendekatan Remedial Teaching Bersifat Pengembangan     Merupakan tindak lanjut dari  post teaching diagnostic,
5.      Langkah-Langkah Melaksanakan Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial merupakan salah satu bentuk bimbingan belajar dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Meneliti kasus dengan permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya.
b.      Menentukan tindakan yang harus dilakukan.
c.       Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling.
d.      Langkah pelaksanaan pengajaran remedial.
e.       Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar siswa dengan alat tes sumatif.
f.       Melakukan re-evaluasi dan re-diagnostik.

6.      Perbandingan Prosedur Pengajaran Biasa dan Remedial
a.       Kegiatan pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dan semua siswa ikut berpartisipasi. Pengajaran perbaikan diadakan setelah diketahui kesulitan belajar, kemudian diadakan pelayanan khusus.
b.      Tujuan pengajaran biasa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan sama untuk semua siswa. Pengajaran perbaikan tujuannnya disesuaikan dengan kesulitan belajar siswa walaupun tujuan akhirnya sama.
c.       Metode dalam pengajaran biasa sama buat semua siswa, sedangkan metode dalam pengajaran perbaikan berdiferensial (sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan.
d.      Pengajaran biasa dilakukan oleh guru, sedangkan pengajaran perbaikan oleh team (kerjasama).
e.       Alat pengajaran perbaikan lebih bervariasi, yaitu dengan penggunaan tes diagnostik, sosiometri, dsb.
f.       Pengajaran perbaikan lebih diferensial dengan pendekayan individual.
g.      Pengajaran perbaikan evaluasinya disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.
7.      Peran Aparat Sekolah, Orang Tua, dan Masyarakat dalam Program Pendidikan dan Pengajaran Remedial
a.    Kepala Sekolah
1)   Kepala sekolah harus menguasai sepenuhnya program pendidikan dan pengajaran remedial di sekolah.
2)   Kepala sekolah menyediakan sumber belajar yang lengkap dan dapat digunakan setiap waktu sesuai dengan kebutuhan.
3)   Kepala sekolah memiliki jalinan kerja sama yang baik dengan orang tua siswa di rumah.
4)   Kepala sekolah mendirikan dan mengembangkan Lembaga Pusat Bimbingan dan Penyuluhan
5)   Kepala sekolah mampu mengangkat seorang ekspert yang bertugas sebagai guru pendidikan remedial
b.    Orang Tua Siswa
1)   Menerima dengan baik kunjungan sekolah di rumah (home visit).
2)   Bersikap tanggap terhadap pembicaraan kasus putra-putranya dan menunjukkan sikap tidak emosional.
3)   Senang menghadiri undangan sekolah untuk membicarakan kasus putra-putranya.
4)   Dapat memberikan data objektif selengkap mungkin tentang kelemahan-kelemahan putranya dalam pelajaran.
5)   Mampu membantu memprediksi dan memberi latihan sepenuhnya terhadap kasus yang dihadapinya.

c.       Staf Tata Usaha Sekolah
Mengaministrasi data-data kasus
d.   Penilik Sekolah
1)   Melakukan kunjungan rutin ke sekolah sekurang-kurangnya dua minggu sekali
2)   Menyelenggarakan diskusi periodik dengan kepala sekolah
3)   mamantau dan mengawasi jalannya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran remedial yang telah dirancang sebelumnya.
4)   Menyelenggarakan upaya kerja sama yang baik dengan lembaga-lembaga terkait.
5)   Para Pemerhati Pendidikan.
6)   Berinisiatif besar dalam memberikan pendapat, sikap, dan aspirasinya dalam upaya penanganan kasus atau dalam hal ini siswa lamban belajar.
e.       Lembaga-Lembaga Kemasyarakatan Terkait
Membantu sekolah dalam mengumpulkan data objektif tentang latar belakang dan sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa serta membantu dalam penyelesaiannya.
8.      Evaluasi Pengajaran Remedial
Tujuan paling utama adalah diharapkan 75% taraf pengusaan (level of mastery). Bila ternyata belum berhasil maka dilakukan diagnostik dan memperoleh pengajaran remedial kembali. Evaluasi perlu dilakukan secara kontinu untuk menentukan perkembangan dan prosedur yang hendak dilaksanakan dimasa mendatang


Sumber :
Makalah kelompok 8






Tidak ada komentar:

Posting Komentar